HARUS ADA PENDIDIKAN TINGGI INKLUSI
Jakarta, Posline.co
“Saya melihat masalah pendidikan pada saat ini khususnya Perguruan Tinggi (PT)mereka berlomba-lomba untuk mencari calon mahasiswa yang pintar berprestasi”, Hal ini diutarakan Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Surya (SPK Surya)DR Navit Susiana NTD kepada Posline.co baru-baru ini di Jakarta pada acara Rapat Pengurus Pusat Pleno Ke 3 APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia).
Dikatakan DR Navit Susiana NTD, padahal kita harus memikirkan anak-anak yang tidak berprestasi padahal kita tahu dari UUD mengatakan bahwa pendidikan adalah hak semua orang sehingga disini perlu dipikirkan PT yang inklusi.
Lanjutnya lagi, jadi pendidikan inklusi itu adalah pendidikan yang mempunyai keunik-unikan khususnya keunikan mahasiswanya calon mahasiswa.
Jadi seperti mereka itu dari daerah-daerah 3T. Ketika mereka bersaing dengan mereka yang ada mereka pasti kalah. Kemudian lagi orang-orang yang mempunyai kebutuhan.
Misalnya, punya daya IQ yang tinggi. Nah, sehingga disini perlu ada wadah padahal sekarang itu PT didirikan untuk menampung seluruh warga atau calon mahasiswa yang mempunyai kemampuan rata-rata, ungkapnya.
Dijelaskan Navit Susiana, kalau usulan saya pribadi adalah bagaimana PT itu dibagi-bagi dipecah-pecah sehingga ada pendidikan khusus untuk anak-anak yang seleksi mempunyai kemampuan IQ yang tinggi.
Kemudian PT yang betul-betul untuk menampung calon mahasiswa yang kemampuannya biasa-biasa saja sehingga disitu proses pembelajarannya juga berbeda proses perkulihan berbeda pembimbingnya berbeda tetapi tentu saja ketika lulus dia akan mencapai standar minimal yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
Jadi kita tahu bahwa kita punya standar nasional pendidikan sehingga disini kita perlu ada kebebasan ketika dilapangan bagaimana kita membimbing mererka sesuai dengan lapangan kerja yang ada didaerah-daerahnya masing-masing, tuturnya.
Lanjutnya lagi, contoh di PT yang saya pimpin ini terdiri dari mahasiswa dari berbagai daerah. Dimana dari berbagai daerah dan ada yang dari Papua itu sampai 16 Kabupaten.
Tentu saja disini kita juga boleh melihat bagaimana potensi daerahnya. Contohnya lagi, kalau di Papua Pegunungan maka kita memberikan pendidikan yang sesuai potensi daerahnya sehingga mereka itu betul-betul ahli dalam membina.
Kemudian memperdayagunakan sumber-sumber yang ada didaerah masing-masing beda dengan yang lain tetapi kalau untuk kearah cara berpikir itu kita perlu masuk kedalam sesuai dengan standar nasional, ujar Ketua SPK Surya.
Diterangkan Navit, jadi disini SPK Surya yang pada saat ini yang akan sedang diminit oleh Univertas Katolik Parahiyangan ini mempunyai S1 ada program studi pendidikan Fisika, Kimia, Matematika, kemudian lagi ada PIK. Disamping itu juga ada S2 adalah pendidikan IPA.
Nah, pada saat ini selama perjalanan kami sudah meluluskan lebih dari 800 anak dari daerah 3T. Mereka ini didik menjadi seorang guru. Dimana mereka ini akan kami didik menjadi seorang guru yang berpotensi.
Kemudian lagi dia kembali kedaerahnya masing-masing dan ikut proses seperti orang biasanya yaitu misalnya menjadi CPNS. Untuk itu mereka bisa bersaing dan pada saat itu mereka sudah menjadi guru didaerah-daerah terpencil.
Nah, inilah salah satu saya pikir itu misi yang sangat baik karena ketika kami mencari guru atau calon mahasiswa bukan anak-anak yang ujungnya kemampuan intelektuak yang tinggi, tidak.
Sambungnya lagi, jadi mereka kami mengajar dari dasar dari penjumlahan satu tambah satu dua tambah dua dan sebagainya. Maka itu jadi ibarat begini “kami mundur selangkah untuk maju dengan cepat”, ucap Navit Susiana.
Nah, ketika mundur selangkah ini kalau kita mengerti harus berprestasi ketika anak-anak memiliki penelitian reputasi internasional jurnal dan sebagainya justru ini adalah mereka standar belum tepat. Kalau kita terapkan untuk anak-anak didaerah 3T yang dimana kita harus memfasilitasi, jelasnya. ( Doli/R I-Emi/Posline.co )
